Jakarta, 10 Feb 2003
EET SJAHRANIE
"Wawancara bersama Eet Sjahranie (gitaris Edane)"
Wawancara kali agak spesial, di mana staff Gitaris.com: Maysan & Wiwik langsung mendatangi kediaman Eet di
Bogor. Ternyata kedatangan kami disambut dengan ramah oleh gitaris yang telah lama disegani oleh pengamat
Guitar Hero Indonesia.
Kali ini Gitaris.com berusaha untuk mengupas habis riwayat, permainan dan sound system yang digunakan oleh Eet.
Silakan disimak wawancara berikut ini:
Halo, Eet! OK, bisa ceritakan awal karir musik anda?
Karier musik saya dimulai tahun 1987 sebagai "guitar player" membantu teman-teman ngisi
gitar untuk project-project mereka, diantaranya adalah Fariz RM, Iwan Madjid dan Ekkie
Soekarno.
Kapan anda memperoleh gitar anda yang pertama?
Waktu saya kelas 5 SD, saya dapat gitar akustik buatan lokal dari alm. oom saya. Saya diajari
main gitar pertama kalinya oleh seorang teman waktu di Samarinda, Kalimantan Timur.
Berbulan-bulan saya melatih chord C, G dan F buat bisa mainin lagu-lagu Koes Plus & Bimbo.
Saya juga sempat belajar sedikit sama kakak yang kebetulan tinggal di Jakarta yang juga pernah
kursus gitar klasik. Saya hanya diajari mainin lagu Romance d'Amour, dari situ saya bisa
memetik gitar akustik mainin lagu-lagu Bimbo, selebihnya otodidak.
Apakah dari saudara atau orang tua anda ada yang menurunkan bakat musik ?
Tidak ada. Tetapi dari 8 bersaudara, yang cowok rata-rata bisa main alat musik, gitar dan
piano walaupun hanya sekedarnya
Sejak kapan anda benar-benar menyukai gitar itu?
Sejak saya mendapatkan gitar elektrik dan amplifier saya yang pertama tahun '75. Saya minta
beliin bokap gitar elektrik setelah melihat Yon Koeswoyo di TV, kayanya asik banget ngeliat
Yon main gitar sambil nyanyi. Tapi sejak saat itu pula saya mulai tertarik belajar mainin
lagu-lagu Led Zep, Purple, Sabbath, Stone dsb. Khusus untuk Led Zep dan Purple saya pelajari
"not per not" mengandalkan kuping dan jari telunjuk untuk pencet "rewind / fast forward" tape
recorder, hahaha ! Maklum dulu gak ada buku tablature dan video "guitar hero", you know ?
Pada tahun berapakah anda hijrah ke Jakarta
tahun '78 ikut ortu.
Apakah saat itu sudah terlintas di pikiran anda bahwa dunia musik itu akan menjadi mata pencaharian anda ?
Tidak ada, sampai di Jakarta pun belum terpikir. Waktu itu pengennya sih seperti temen lain
nya pengen menjadi "orang mapan".
SMA-nya di sekolah apa?
Di YAPERCI (Yayasan Perguruan Cikini) yang masih di jalan Cikini Raya
Apakah teman-teman anda di SMA tersebut ada yang akhirnya menjadi musisi juga ?
Di angkatan saya gak ada, tetapi di bawah angkatan saya itu ada. Yaitu Bimbim (Slank), Welly
(ex-Slank & No Limit), Indra Lesmana, dan Ricky yang kini menjadi pengajar gitar di salah
satu sekolah musik di Jakarta. Tapi konon angkatan yang jauh di atas saya, entah berapa
tahun, banyak yang sudah jadi musisi-musisi terkenal seperti Guruh Soekarno Putra (Guruh
Gipsy), Keenan dan Oding Nasution bahkan Achmad Albar.
Apakah dengan pindah ke Jakarta, lebih membantu anda dalam dunia musik?
Oh iya, ketika di Kalimantan saya tidak tahu informasi apa-apa lagi kecuali yang ada di sekitar.
Sewaktu di SMA saya diajak bergabung dengan grup band sekolah yang pada tahun '79
ikut festival band SLTA se Jakarta yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran UI, dan
band kami waktu itu mendapat juara II dan satu-satunya band yang agak nge-rock, hahaha, dan
itu saya rasa bukan karena pengen nge-rock tapi lebih kepada keterbatasan kemampuan atau kekurangan
skill yang gak mampu untuk nge-jazz atau nge-fusion yang cenderung ngejelimet. Di
festival itu juga saya terpilih sebagai "gitaris terbaik", dan saya rasa itupun bukan karena saya
"jago" tapi lebih karena saya satu-satunya yang main pakai "distortion", jadi mungkin saat itu
terdengar lebih menonjol sementara peserta lainnya terlalu sibuk sama chord 2 "miring" dan
pake sound clean, hahahaha ! By the way juri-jurinya saat itu adalah mas Abadi
Soesman (keyboardist God Bless album Cermin), Bens Leo (wartawan dan pengamat musik) dan satu
lagi (saya lupa namanya) adalah salah satu anggota grup rock yang cukup terkenal saat
itu, "Hookerman". Gak lama setelah itu saya diajak oleh "GOC" (Group Operette Cikini) yang
anggotanya sebagian besar adalah alumni-alumni YAPERCI, jadi mereka itu angkatan di atas
saya 4 atau 5 tahun. Di GOC itu saya jadi kenal dengan Iwan Madjid personil grup progressive
rock saat itu yang sudah rekaman, "Abhama", dan beliau ini juga yang mengajak saya membentuk
grup WOW yang sayangnya saya gak sempat bergabung karena keburu ke USA, dan Cynomadues di
'90an awal, dan di Cynomadeus ini saya ketemu Fajar yang akhirnya menjadi drummer
Edane sampai sekarang. Album solo Iwan Madjid, "Pesta Reuni" yang di-released tahun 1988
adalah salah satu dari project-project dimana saya terlibat membantu sebagai "session guitar
player" sepulang saya dari USA. Di GOC saya mendapatkan pengalaman "rekaman" untuk pertama
kalinya, waktu itu rekaman tersebut untuk keperluan musik playback untuk pagelaran rock opera
"MAHABHARATA yang diadakan di TIM tahun 1981 seingat saya. Sepertinya itu semua jadi titik
awal karir saya di musik Indonesia.
Pada waktu itu sedang trend musik seperti apa?
Waktu itu trendnya musik jazz dan disco, kalau main rock... that means you're old, karena
mungkin belum ada hero baru di musik rock. Padahal Van Halen released album pertama aja
tahun 1978, tapi gak ada yang tau tuh, termasuk saya sendiri boro-boro seneng ama Van Halen
tau band itu ada aja gak, padahal itu periode tahun '78 sampai '81, atau mungkin kebetulan
temen-temen Cikini saja yang demen sama disco dan jazz atau mungkin saya yang kurang "gaul"
hahaha, well, wallahualam ! Tapi memang kenyataannya seperti itu. Saat itu lagi seru-serunya
"Saturday Night Fever dan Grease"-nya John Travolta, "Spain"-nya Al Jearreu dsb.
Kalau gitaris yang lagi seru saat itu adalah Al DiMeola, Lee Ritenour dsb. Kalaupun ada
grup rock yang agak "baru" yang masih bisa didengar banyak orang saat itu adalah Queen.
Tapi dari temen-temen yang demen rock kita lumayan keep up untuk musik rock, saat itu kami
lagi seru-serunya dengerin Black Sabbath, AC/DC, Thin Lizzy, Styx, The Police dll. Saya
baru tau Van Halen tahun '81 dari temen yang kebetulan dapat video-nya, dan saat itu saya
gak terlalu tertarik, mungkin karena kualitas audio dan video-nya kurang baik atau apa jadi
video-nya kurang bisa dinikmati, well masih zamannya "betamax", y'know ! Intinya memang
musik rock saat itu gak terlalu diterima publik. Media seperti radio pun di Jakarta sangat
jarang menayangkan acara rock kalaupun tidak bisa disebut tidak ada. Artis-artis
atau band-band rock yang di industri pun bisa dihitung sama jari dan terasa mereka belum
terlalu "total". Yang paling menonjol saat itu di rekaman hanya God Bless. Padahal waktu
saya masih di Samarinda, berita-berita dari majalah musik seperti Aktuil, musik rock lagi
ramai-ramainya. Band-band seperti AKA, SAS, Giant Step, Rollies dll selalu menjadi berita.
Tapi memang mereka ramainya lebih ke panggung daripada rekaman. Dan mungkin waktu saya ke
Jakarta trend musik sudah berubah. Musisi-musisi generasi baru setelah era Koes Plus dan
Bimbo saat itu yang lagi ramai adalah: Chrisye, Fariz RM, Keenan Nasution dll. Sepertinya
tahun-tahun itu musik rock lagi surut.
Bagaimana ceritanya anda bisa belajar ke USA?
Pada tahun 1982 akhir... sesudah tamat SMA. Ke USA itu bukan bertujuan untuk sekolah musik
atau gitar, melainkan sekolah formal. Tapi disana saya baru tau "What's goin' on, y'know" !
Di sana saat itu lagi seru-serunya musik rock era baru yang sering disebut "Heavy Metal".
Sepertinya saat itu juga masih baru-barunya MTV, saya baru tau Motley Crue, Dokken dsb.
Di sana juga saya mulai tertarik sama Van Halen, ternyata emang "gile" man ! Pokoknya di sana
jauh banget deh "rock scene"-nya sama di Jakarta yang nge-disco, hahaha ! Dan beberapa bulan
menjelang saya pulang ke Indonesia, saya sempat nonton konser Van Halen album 5150 di
LA, man... it was loud and kick ass !
Saya pernah dengar bahwa anda itu jebolan GIT atau Berklee atau bahkan murid Van Halen atau
bahkan Steve Vai dan Joe Satriani?
Hahaha, gile tuh gossip! Saya hanya sempat belajar recording engineering di Ohio.
Jadi anda ke USA itu justru bukan belajar gitar?
Just learning English a little bit, ikut recording workshop, dan beli gitar, hahaha.
Sejak kapan anda baru memutuskan untuk serius di dunia gitar?
Ketika saya sudah di USA. Saya sempat 3 tahun disana. Saya pulang ke Indonesia sekitar pertengahan
tahun 1986, musik rock sepertinya kembali ramai, saya sempat lihat konser musik
rock yang salah satu pengisi acaranya adalah grup rock generasi baru, "Grass Rock". Dan penontonnyapun
jingkrak-jingkrak gak seperti waktu saya nonton God Bless beberapa tahun sebelumnya dimana terlihat
penontonnya "formal", setelah selesai satu lagu "tepuk tangan dengan sopan". Di acara ini sepertinya
musik rock di Indonesia mulai sejajar dengan yang terjadi di luar negeri, khususnya Amerika, dalam
pengertian "trend", mulai muncul band2 baru, mungkin informasi mulai lebih baik, sepertinya masyarakat
"rock" sudah tau dalam merespon musik rock yang ditonton. Tapi di era itu kita lagi seru-serunya menjadi
band "cover" atau copy, ada Beatles-nya "Indonesia", Deep Purple-nya "Indonesia", Duran-Duran-nya "Indonesia"
dsb. Dan saya maksudkan cover itu betul-betul "cover version" bukan sekedar terpengaruh.
Dan saya sempat diajak nge-band sama temen-temen bawain Van Halen sama The Police tapi gak
sempat lama karena setelah itu saya diajak oleh Fariz RM ke Superdigi untuk live dari album
Fariz RM, "Living In The Western World" dimana saya mengisi gitar untuk beberapa lagu di
album tersebut yang salah satunya sempat hit saat itu, "Barcelona". Semenjak itu saya sudah
memutuskan untuk lebih serius.
Bagaimana ceritanya anda sampai bisa membentuk band dan rekaman bersama God Bless ?
Mungkin lebih tepat "diajak" oleh God Bless bukan "membentuk" God Bless. God Bless adalah
grup rock yang sudah ada sejak saya masih SD. Rekaman dengan God Bless ? Waktu mas Ian mundur
dari God Bless setelah album "Semut Hitam" yang sukses, God Bless memutuskan untuk melanjutkan
rekaman berikutnya (Raksasa / Maret '89) dan saya diajak untuk mengisi posisi gitar menggantikan
mas Ian. Sebelum bergabung dengan God Bless saya sudah pernah diminta tolong untuk pengisian gitar
album-album "Lady Rockers" seperti Mel Shandy dan Hesty Briza yang kebetulan musiknya digarap oleh
mas Jockie Suryoprayogo keyboardist God Bless, mungkin dari situ mas Jockie secara tidak langsung
sudah meng-audisi saya. Persisnya seperti apa saya gak tau, yang jelas gak lama setelah itu saya
diajak bergabung dengan God Bless.
Ketika anda bergabung dengan God Bless, apakah anda menemukan kesulitan untuk mendapatkan
sound gitar ? Seperti lagu "Maret 89" dan "Menjilat Matahari" ?
Waktu mengisi gitar
untuk lagu-lagu God Bless yang mana dua lagu tersebut diatas termasuk diantaranya, mereka / mas
Jockie tidak meminta sound tertentu kecuali distortion yang sudah lazim untuk musik rock, dan
sound yang maksimal didapat saat itu ya seperti yang anda dengar di kaset.
Gitar apa yang anda gunakan ketika di God Bless?
Merknya sama seperti yang saya pakai sekarang, tapi saya lupa type-nya, mirip dengan model
Joe Satriani, tapi setahu saya model Joe Satriani saat itu belum ada.
Ketika anda sedang di God Bless itu, anda sedang menyukai musik seperti apa ?
Saya rasa tidak ada yang khusus.
Kami dengar sound anda sudah jauh berbeda antara ketika anda di God Bless dan Edane ?
Well, ya !
Seperti apa keleluasaan anda untuk berkarya ketika masih bersama God Bless? Apakah mereka
sudah membuat musik dan lagunya dan anda tinggal mengisinya ?
Tepatnya begitu, semuanya sudah ada bahkan part gitarnya pun sudah ada. Namun ada satu lagu
di mana saya harus buat, judulnya "Emosi", mungkin lagu itu sedikit berbeda dengan lain
nya karena lagu itu ditulis dengan cara saya.
Apakah untuk solo gitarnya juga bebas?
Ya, tetapi untuk pattern dan chord changes-nya sudah ada. Saya tidak bisa bermain di luar
itu, kecuali untuk lagu "Emosi" yang tersebut di atas yang mana semua gitar rhythm dan solo
saya mainkan tanpa kontrol dari anggota God Bless lainnya kecuali melody lagu atau vocal
line dan lyric yang ditulis oleh Achmad Albar.
Sejak kapan anda memiliki obsesi untuk membuat band seperti Edane?
Itu sudah lama, sejak di God Bless pun sudah ada. Namun kesempatannya belum ada. Untuk mencari
personilnya pun tidak mudah dan tidak terfokus waktu itu. Namun akhirnya saya dapat tawaran
untuk menggarap solo album penyanyi rock senior, I turned down the offer karena kurang sreg
dan saya gak terlalu suka imej arranjer, saya pengen punya band saya sendiri, tapi untuk
memulainya saya masih ragu. Akhirnya tawaran berubah untuk menggarap penyanyi rock
baru dan saya diminta memilih nama yang tertera di list yang dibawa produser, saya pilih saat
itu Eky Lamoh yang menurut saya menyanyinya paling OK, kebetulan pula, saya sempat tau Eky Lamoh
waktu album Ekkie Soekarno "Kharisma Indonesia" dimana dia menyanyi satu lagu kalau gak salah
judulnya "Arena" dan saya ngisi gitarnya. Saya akhirnya menerima tawaran tsb dengan konsep
kolaberasi antara Eet Sjahranie dan Eky Lamoh bukan sebagai solo album "penyanyi rock" yang
musik-nya digarap oleh Eet Sjahranie atau semacamnya, y'know. Singkatnya jadilah itu project
"E dan E". Tapi akhirnya project "duo" itu berubah konsep menjadi konsep band setelah kemunculan
"I dan I" (Ikang Fawzi & Ian Antono), singkatnya "E dan E" akhirnya
jadi "EDANE" dengan album "The Beast" tahun 1992 yang beranggotakan saya, Eky Lamoh, Iwan
Xaverius dan Fajar Satritama. Dan saya sangat sreg dengan kondisi ini karena ini lebih band.
Saya memang lebih menyukai konsep band dan saya sudah lama menginginkan band saya sendiri.
Apakah lagu-lagu terdapat pada album pertama Edane itu merupakan lagu-lagu yang telah lama
ditulis atau lagu baru semua ?
Beberapa sudah lama ada di benak saya, namun mayoritas diciptakan secara spontan. Sebagai
contoh lagu The Beast, itu terjadi saat Fajar checksound untuk drum sebelum "take", di mana
saat dia sedang main pola beat dasar saya iseng-iseng main riff yang akhirnya jadi riff
lagu The Beast tersebut, dan tentunya beberapa lagi lagu-lagu dari Eki Lamoh dan Iwan X.
seperti Liarkan Rasa, Ikuti dan lainnya. Beberapa lagu yang sudah lama ada di benak saya
salah satunya adalah "You Don't Have To Tell Me Lies". Lagu evolution adalah lagu yang sudah
ada sejak Cynomadeus dan Opus 13 adalah lagu yang saya ambil dari album Iwan Madjid,
"Pesta Reuni", saya aransemen ulang supaya lebih "guitar oriented".
Kami perhatikan saat itu hanya anda yang berani membawakan lagu dengan gitar yang menonjol
seperti itu?
Well, I don't know man ! Tapi yang jelas sudah banyak gitaris hebat tapi belum ada kesempatan
masuk ke industri rekaman mungkin ?
Ketika di Edane, porsi untuk lagu dan gitar itu berapa persen banding berapa persen?
Porsi untuk lagu jauh lebih banyak. Untuk guitar solo, saya malah tidak pernah terpikirkan.
Untuk pembuatan solo gitar itu apakah cukup lama atau langsung berangkat saja ?
Langsung berangkat saja, karena memang saya tidak bisa merencanakannya. Kalau saya rencanakan
malah buyar. Untuk solo-solo gitar yang agak rumit mengingat ketidakmampuan saya untuk
mengulangnya kembali dengan baik terpaksa saya kumpulin di beberapa track yang masih kosong
kemudian saya pilih yang sekiranya OK.
Dari album pertama ini apakah anda memiliki lagu favorit? Atau mungkin salah satu lagu ada
yang paling memuaskan hasilnya ?
Secara spesifik sih tidak ada. Semuanya saya anggap OK, tentu dengan segala kekurangannya.
Apakah anda memang ingin membuat kejutan ketika anda merilis album pertama Edane ? Misalnya
ingin menunjukkan bahwa ini musik gaya baru?
Gak tuh, ini musik tahun 1985 kemarin dan baru sempat dimainin tahun '92 tapi banyak yang
mengatakan itu musik rock baru, bahkan sebagian besar pers mengatakan demikian, itu membanggakan
sekaligus sekaligus menyedihkan, menyedihkannya adalah kita di Indonesia ternyata kurang tanggap
bahkan telat bereaksi terhadap regenerasi musik rock yang terjadi, termasuk kami
sendiri, "edane", untuk dua album awal The Beast dan Jabrik. Oleh sebab itu album Borneo
(1997) sepertinya agak gak nyambung dengan 2 album sebelumnya. Well, somebody has to start
it anyway, it's better late than never, y'know ?
Kami tidak berbicara masalah musik yah, dari segi sound saja sepertinya belum ada yang memiliki
sound gitar seperti itu. Mungkin itu berpengaruh dengan pendidikan recording yang
anda bawa dari USA?
OK, sekarang kita berbicara masalah sound, mungkin saja begitu, tapi gak seratus persen benar.
Sejak awal saya memiliki elektrik gitar saya sudah sangat perduli dengan "sound", at
least kepada "sound" gitar saya sendiri saat itu. Saya paling gak betah kalau sound gitar
saya gak seperti yang ada di benak saya. Masalah "tweaking" EQ bisa membuat saya lupa waktu
apalagi kalau sound dimaksud belum ketemu. Sampai akhirnya saya mengerti bahwa gitar itu sebenarnya
adalah instrument yang unik, gitar itu sangat sensitive dan responsive terhadap
apa yang kita lakukan pada gitar itu, artinya "sound gitar" juga tergantung dengan bagaimana
dan siapa yang memainkannya disamping perangkat pendukung lainnya seperti amplifier, speaker
maupun effects yang digunakan. Kalau bicara teknis sound, terus terang saya gak terlalu tau
banyak, tapi saya tau betul sound yang saya mau, kadang bisa mudah didapat kadang
gak sama sekali. Semua sangat tergantung dengan selera kita masing-masing as a player. Dan
sound gitar tidak pernah sempurna dan fixed, selalu saja ada yang baru lagi. Waktu di Recording
Workshop saya pernah bertanya seperti apa sound gitar yang baik itu dan jawaban yang
saya dapat adalah, "yang menurut kuping anda baik itulah yang terbaik".
Untuk gitar RG550 yang anda gunakan pada album pertama Edane tsb, apakah telah dimodifikasi
atau masih standard ?
Masih standard, hanya pickup saja yang saya ganti dengan '59.
Untuk perlengkapan sound, anda menggunakan apa-apa saja ketika di album pertama tersebut?
Saya hanya menggunakan 1 buah amplifier 100 watt dan 1 buah 4 x 12 cabinet.
Perlengkapan tersebut anda beli di Indonesia atau di luar?
Di Indonesia.
Amplifier apa saja yang anda gunakan di album Edane?
Saya menggunakan amplifier 5150 dan Hi Gain Master 2100 JCM 900 ketika album Jabrik, untuk
album Borneo saya pakai amplifier SLO-100 dan JMP-1 preamp, dan untuk album 170 Volts, saya
pakai SLO-100, GX90, AX 1000 pedal multi effect.
Dari seluruh amplifier yang anda gunakan tsb, apakah distortion itu anda ambil dari head /
amplifier atau mungkin dari sound effect? Untuk mendapatkan sound setebal dengan sustain
sebagus itu?
dari amplifier itu sendiri.
Apakah untuk recording tersebut anda selalu hanya menggunakan gitar dan amplifier saja ?
Atau dibantu dengan perangkat lain seperti effect?
Gitar dan amplifier saja. Tetapi khusus untuk album pertama dan kedua, saya menggunakan
effect "delay" (stereo) pada saat mixing. Dan beberapa saya pakai wah-wah, dan compressor
khusus untuk sound clean.
Jadi di album ketiga (Borneo) itu anda hanya menggunakan gitar dan amplifier SLO-100 saja ?
Tanpa effect apapun?
Ya, kecuali untuk guitar solo dimana saya biasanya pakai sedikit "delay", dan beberapa lagu
saya menggunakan preamp JMP-1 untuk lead.
Untuk amplifier tabung, kami denger semakin panas semakin bagus... apakah itu benar?
Yes dan no, untuk amplifier tertentu saya lebih suka justru ketika baru dinyalakan, saya
gak mau nunggu sampai kepanasan soalnya suaranya jadi lembek dan "muddy".
Saya dengar di album kedua (Jabrik) sepertinya besar sekali pengaruh permainan Nuno Bettencourt (Extreme)?
Well ? Extreme memang lagi ramai-ramainya waktu itu.
Apakah anda keberatan jika diidentikkan dengan Eddie Van Halen?
Satu sisi saya senang... saya anggap itu sebagai komplemen. Di sisi lain saya sebel... bagaimanapun
saya juga ingin dikenal sebagai Eet Sjahranie bukan Eddie Van Halen atau siapa,
terus terang dua nama yang anda sebut diatas, Nuno dan Van Halen adalah beberapa dari hero
saya tapi satupun lagu-lagu mereka gak ada yang saya hafal.
Apa anda selalu mengulik habis lagu idola anda?
Saya ngulik habis itu ketika saya masih SMP, waktu lagi seru-serunya belajar mainin Led Zep
Purple dsb. Setelah itu gak pernah lagi.
Sebagai seorang gitaris, bagaimana kriteria gitaris yang bagus?
Menurut saya, gitaris itu bagus jika yang keluar adalah "musik". Karena gitar itu bukan segalanya,
gitar hanya merupakan salah satu alat untuk bermain musik. Bukannya saya gak menyukai album
solo Guitar Hero, itu sebabnya mengapa saya lebih memperhatikan Eddie Van Halen
dan Angus Young daripada "guitar heroes" lainnya yang lagi ramai-ramainya saat itu. Mas Ian
dan Pay adalah contoh dari beberapa gitaris yang keluar dari karya mereka itu adalah musik
menurut saya di Indonesia ini. Although sometimes it's nice to listen to someone playing
some "guitar hero" things, y'know ?
Jika anda menjadi juri sebuah Festival, bagaimana cara penilaian anda? Kami dengar anda pernah
menjadi juri di sebuah Festival di Gedung Pemuda ketika tahun '92?
Jika di festival, biasanya saya menilai dari performance. Itu menyangkut semua, mungkin peserta
suka terkecoh... dalam segi permainan gitar, pasti mereka akan bermain sebaik mungkin.
Tetapi bagi saya yang paling penting itu adalah harus enak didengar dan enak ditonton.
Sejak album pertama Edane sampai dengan album terakhir anda, saya melihat adanya pengurangan
porsi gitar di album-album tersebut. Apakah itu merupakan salah satu tindakan untuk
mengalihkan perhatian pendengar untuk lebih mendengarkan musik anda dan bukan pada gitar
anda saja?
Well, sebenarnya saya itu tidak ingin terbebani, saya itu tidak harus selalu tampil sebagai
"jagoan". Terus terang saya ingin main musik itu bebas... enjoy , I want to fly like Eddie,
"duck walk" like Angus, have cool rhythm like Iommi, strum "mystical" chords like Page and
play 90 mph like Malmsteen whenever I want to, y'know ? Saya gak pengen di dikte harus jadi
guitar hero.
Apakah ketika anda manggung, anda selalu memainkan guitar solo yang sama seperti di rekaman?
Gak sama persis. Soalnya ketika rekaman saja, jika saya disuruh ulang tidak pernah bisa sama.
Berapa jam anda habiskan per hari untuk latihan gitar? Apakah setiap harinya berlatihan
speed dengan menggunakan metronome?
Wah, saya ini typical gitaris yang tidak pernah latihan, jangan ditiru untuk yang satu ini
karena latihan yang banyak itu akan membuat permainan anda lebih baik, y'know ? Tapi hampir
setiap hari saya "main" gitar walau paling banyak cuma 1 jam, dan saya gak pernah latihan
pake metronome, wah payah man, gua emang paling gak disiplin !
Boleh tahu mengapa anda itu tidak pernah memainkan gitar akustik di rekaman-rekaman anda?
Karena saya memang tidak pernah merasa comfortable (nyaman) dengan gitar akustik.
Bagaimana pandangan anda mengenai band-band sekarang seperti Shiela on 7, Padi dsb dari jalur rock?
Why not ? Disitulah seninya bermusik di-industri, you never know who will be the next hero,
sebagai musisi, mereka sudah jelas kompetitor atau saingan kami, karena masing-masing pasti
ingin lebih baik, saya tidak munafik. Tapi justru kekurangan kita dari generasi terdahulu
itu kurangnya persaingan yang akhirnya secara mental kita kurang siap dan cenderung cepat
puas. Satu kali tampil di TVRI satu Indonesia udah tau semua dan langsung merasa sebagai superstar
besar. S07, Padi adalah dua dari pendatang-pendatang baru di musik Indonesia yang
boleh dikatakan hasil seleksi ketat, dan mereka sudah membuktikan kesuksesan mereka, like
it or not ! Kalaupun mereka dikonsider sebagai band rock, so what? Toh salah satu nominasi
"the best rock band" pada MTV European Music award yang lalu adalah "Coldplay".
Sejauh ini anda mempunyai anak didik tidak? Kami denger Edo Widiz (Opera) itu merupakan salah satu murid anda?
Gak tuh, kami hanya sekedar ngobrol-ngobrol aja, tukar menukar informasi lah.
Apakah anda ini tipe gitaris yang bisa ngajar?
Mengajar secara rutin sih tidak, tetapi saya ini tidak pelit dengan ilmu.
Tips apa yang berikan agar member gitaris.com dapat bermain seperti anda?
Mulailah dengan yang paling dasar, mulailah dari yang sederhana, do it step by step.
Gitar apa yang anda gunakan saat ini?
RG570.
OK, terima kasih atas waktu anda untuk wawancara ini.
Sama-sama, thanx !
Untuk profil Eet, silakan kunjungi: http://gitaris.com/EetSjahranie.p
Click di sini untuk melihat wawancara lainnya!
|